Image default
Kajian

Bukti Kehidupan di Mars sejak Tahun 1970








CEO dari SpaceX, Elon Musk alias “Iron Man” Musk, pada Sabtu (28/9) lalu menyampaikan rencana untuk memindahkan populasi Bumi ke Mars

Kontroversi.or.id – Pada tahun 1970-an, pesawat luar angkasa Viking mendarat di permukaan Mars dengan tujuan mengeksplorasi Planet Merah tersebut.

Salah satu eksperimennya bernama Labeled Release (LR), yang bertujuan untuk mencari sinyal kehidupan di planet tersebut.

Viking kembali ke Bumi dengan membawa hasil eksperimen pada 1976. Hasilnya menunjukkan bahwa ada tanda-tanda kehidupan di permukaan Mars.

Gilbert V Levin, insinyur dan pencipta Viking Programs sekaligus investigator pertama dalam eksperimen tersebut sekarang membuat esai panjang tentang penemuan tanda-tanda kehidupan di Mars. Namun entah mengapa, penemuan tersebut diabaikan oleh NASA.

“Pada 30 Juli 1976, LR kembali membawa hasil eksperimen dari Mars. Hebatnya, hasilnya positif”, tutur Gilbert dalam artikel yang ditulisnya di Scientific American, seperti dikutip dari The Independent. Minggu (20/10/2019)

Sepanjang eksperimen, total terdapat empat hasil positif, didukung oleh lima kontrol yang bervariasi.

“Kurva data mengisyaratkan deteksi respirasi mikroba di Planet Merah. Kurva data yang serupa diproduksi oleh tes LR tanah di Bumi. Tampaknya kita sudah menemukan jawabannya”, tambah Gilbert.

Robot Opportunity milik NASA yang telah mengelilingi planet MARS sejak 2003. Kini, ia sedang tidur cukup lama karena dampak badai debu di planet merah.
Namun mengapa NASA mengabaikannya? Disinyalir hal ini karena NASA tidak menemukan bahan organik dalam eksperimen tersebut: bentuk fisik dari tanda-tanda kehidupan. NASA menginginkan hal yang lebih dari respirasi mikroba yang ditemukan oleh LR.

Hal ini berarti NASA menganggap hasil yang ditemukan oleh LR mengandung kehidupan, namun tidak berbentuk kehidupan itu sendiri.

Sejak itu, NASA belum melakukan eksperimen lanjutan yang terfokus pada kondisi cuaca dan habitat Planet Mars sebagai “rumah bagi alien”. Namun Gilbert bersikeras bahwa sudah terdapat tanda-tanda kehidupan di Mars.

“NASA melakukan penelitian terhadap kehidupan alien, itu menjadi prioritas. Bumi sekarang mengirimkan astronot ke Mars. Bagaimanapun, isu kehidupan di Mars sekarang tampak lebih jelas”, papar Gilbert.

Dalam tulisannya, Gilbert meminta NASA untuk kembali melakukan eksperimen serupa layaknya 40 tahun lalu. Ia juga meminta para peneliti untuk kembali memeriksa hasil eksperimen 40 tahun lalu, untuk membuktikan bahwa ada kehidupan di Mars.

Elon Musk Berencana Pindahkan Populasi ke Mars
CEO dari SpaceX, Elon Musk alias “Iron Man” Musk, pada Sabtu (28/9) lalu menyampaikan rencana untuk memindahkan populasi Bumi ke Mars.

Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Elon Musk memperkenalkan roket anyar dari SpaceX. Starship, begitu nama roket tersebut, memiliki 40 lantai dengan tinggi 118 meter.

Bandingkan dengan beberapa roket sebelumnya: Starhopper yang memiliki tinggi 18,4 meter, Millenium Falcon yang memiliki tinggi 34,75 meter, dan Starship Mark 1 (prototipe) yang memiliki tinggi 50 meter.

Elon Musk mengatakan bahwa ia melihat potensi untuk mulai menerbangkan awak tahun depan. Hal itu disampaikannya di launch site SpaceX yang berlokasi di Boca Chica, Texas.

Starship sendiri baru saja selesai beberapa jam sebelum ia berpidato di depan media.

“Sebelas tahun lalu SpaceX berhasil mengorbit untuk pertama kalinya. Sepertinya (roket) ini merupakan yang paling inspiratif dari yang lain”, tutur Elon Musk seperti dikutip dari Business Insider. Selasa (1/10/2019)

Ramah Lingkungan
Elon Musk mengatakan Starship lebih ramah lingkungan dibanding roket-roket sebelumnya. Alasan pertama adalah bahan bakar.

Roket Starship bertumpu di atas rocket booster raksasa bernama Super Heavy. Booster ini yang akan mengantarkan Starship keluar orbit Bumi, kemudian lepas di luar angkasa, dan kembali lagi ke Bumi.

Begitu tiba kembali di Bumi, Super Heavy bisa kembali diisi daya untuk meluncurkan roket Starship berikutnya.

Bahan bakar Super Heavy adalah methanol dan oksigen, yang menurut Elon Musk, bisa dibuat di Bumi dengan hanya menggunakan karbondioksida, air, dan energi matahari.

Alasan kedua adalah bahan yang digunakan untuk membuat roket. Starship terbuat dari stainless steel, yang menurut Elon Musk, 50 kali lebih murah dibanding komposit serat karbon.

“Roket tersebut akan jatuh saja seperti penerjun payung. Kemudian akan membalik sendiri dan mendarat di tanah. Akan sangat menakjubkan melihat roket sebesar itu mendarat di Bumi”, paparnya.

Elon Musk mengkalkulasi, dalam skenario ideal, satu buah roket Starship bisa meluncur ke angkasa tiga kali sehari, atau sekitar 1.000 kali dalam setahun. Dengan asumsi Starship bisa mengangkut 150 ton barang bawaan dalam sekali jalan, maka roket tersebut bisa membawa 150.000 ton barang per tahun.

Sementara itu, menurutnya, roket-roket yang kini diluncurkan dari Bumi hanya bisa mengangkut sekitar 300 ton barang ke angkasa.

“Dengan terbangnya Starship maka akan menambah kapasitas bawaan hingga 1.000 kali. Ini cukup untuk membuat sebuah kota di Mars”, tutur Elon Musk.

Pria itu optimis bisa mulai menerbangkan roket Starship mulai tahun depan.

“Sepertinya potensial untuk memberangkatkan awak pada tahun depan. Kami bisa melakukan banyak penerbangan agar semuanya terbukti”, tuturnya. (kdc/san)

























There is no ads to display, Please add some

Related posts

Rupanya Manusia Punya Lebih dari 5 Indra

Penulis Kontroversi

Masa Depan Indonesia, Antara IPM, Harapan dan Tantangan

Penulis Kontroversi

Momentum Lompatan Besar

Penulis Kontroversi

Leave a Comment