Image default
Bentuk Restart Dunia Baru Opini Pojok Opini Imam Ahmad Bashori Referensi Dunia Baru Referensi Perubahan

Langkah-Langkah Mengubah Cara Pandang

bebas

Sebagai makhluk sosial, Anda tentu tidak akan pernah lepas berinteraksi dengan orang lain. Saling bertukar pikiran adalah salah satu wujudnya. Saat melakukan perbincangan, perbedaan pendapat kadang membuat Anda ingin mengubah pola pikir orang lain. Apalagi jika lawan bicara terjebak pada pemikiran yang keliru. Namun, bagaimana caranya?

Apa gunanya mengubah pola pikir orang lain?
Mengubah pola pikir orang lain merupakan bagian dari berpikir kritis. Pemahaman ini tentu sudah Anda pelajari saat di bangku sekolah.

Tujuannya, agar Anda bisa mengekspresikan pendapat yang Anda pikirkan dan menyatakannya secara logis sehingga dapat diterima oleh orang lain.

Akan tetapi, apakah ini penting? Ya, sangat penting. Mengubah pemikiran orang lain tidak hanya dilakukan oleh orang-orang bekerja di parlemen.

Dalam kehidupan sehari, contohnya musyawarah dengan anggota keluarga, teman, atau pasangan pasti diperlukan. Bahkan, Anda perlu melakukan hal ini dalam lingkungan kerja.

Sebuah studi yang diterbitkan International World Wide Web Conference, mengamati faktor apa yang membuat orang mengubah pikiran mereka.

Periset mengajak responden untuk mengikuti diskusi terbuka, kemudian melihat jumlah orang yang merespons, mengurutkan tanggapan mereka dalam diskusi, dan bagaimana cara mereka mengungkapkan tanggapan.

Kenali faktornya terlebih dahulu
faktor-faktor yang bisa mengubah pikiran seseorang, antara lain:

  • Mengungkapkan argumen secara persuasif, yaitu membujuk secara lembut, tenang, dan tidak menyiratkan kontrol
  • Melengkapi argumen dengan data-data yang valid sehingga memberikan kesan bahwa argumen tersebut dapat dipercaya
  • Lebih memilih kata “saya atau aku” daripada “kita” ketika mendeskripsikan pendapat yang cenderung lebih terbuka dan menghindari kata-kata yang terkesan emosional.

Pemicu untuk lebih baik
Disadari atau tidak, setiap hari kita selalu dihadapkan pada stressor-stressor yang datang dari berbagai sisi, entah itu pekerjaan, kehidupan sehari-hari, pergaulan, atau kegiatan akademik sekalipun. Hadirnya stressor bagi sebagian orang akan menjadi pemicu untuknya bekerja lebih baik lagi, namun bagi sebagian lagi mungkin akan berpikir hidupnya tidak cukup beruntung. Pada dasarnya hal yang mempengaruhi bagaimana kita menghadapi stressor adalah cara pandang kita terhadap stressor tersebut. Di akhir pekan ini, Lampu Edison akan memberikan langkah-langkah bagaimana mengubah cara pandang kita menjadi lebih positif.

Perubahan menuju kebaikan memang bukan perkara gampang. Hal ini pun jadi perhatian J.O. Prochaska dan Carlo C. DiClemente. Keduanya adalah peneliti yang merilis buku “Changing For Good”, dan menyampaikan apa itu stages of changes alias tahapan-tahapan perubahan.

cara merubah sikap dan perilaku, cara merubah sikap seseorang menjadi baik, cara merubah sikap menjadi lebih dewasa, cara mengubah sikap pendiam dan pemalu, cara merubah diri menjadi lebih baik menurut islam, cara merubah sifat buruk menjadi baik.

1. Tahap Pre-contemplation (Pra Kontemplasi)

Di fase ini, kita masih ada dalam tahap denial alias belum mau mengakui. Hati sudah sadar kalau kita mesti mulai bersikap dewasa, mamun kita juga yang berkilah, “ah, saya masih muda kok“, atau “orang lain juga banyak yang lebih childish kok”.

Hati sudah sadar kalau kita mesti mulai rajin ibadah. Namun kita juga beralibi “,mumpung masih muda, hepi-hepi aja dulu”, atau “masih banyak waktu untuk itu, nanti kalau sudah tua saja deh”.

Jadinya kita merasa belum butuh perubahan. Kita juga berburuk sangka duluan, dengan menjudge kalau perubahan itu akan sulit.

2. Kontemplasi (Merenung/ Berpikir ke Depan)

Tahap perdana bisa dilalui ketika “ditampar” kesadaran tentang pentingnya perubahan. Misalnya, ‘kalau belajar dewasa dari sekarang ‘kan lebih bagus’, atau ‘mulai rutin olahraga dari sekarang lebih mantap’. Namun bagian ini juga tak lepas dari godaan.

Kita dibikin ragu oleh banyak hal. Seperti ‘kalau olahraga, kapan waktunya?’, ‘kalau mulai mengurangi keluyuran nanti teman berkurang dong?’, ‘kalau salat malam, nanti waktu tidurnya jadi berkurang dong?’, ‘kalau harus banyakin makan buah dan sayur rugi dong enggak melahap fast food?’, dan seterusnya,

Tetapi ujian bisa dilalui kalau kesadaran dan tekadnya semakin kuat. Terbersit pikiran kalau ‘olahraga dan gaya hidup sehat itu kebutuhan saya, kalau enggak dipenuhi, nanti kualitas hidup akan memburuk’.

3. Tahap Persiapan

Poin ini mendorong kita untuk bergerak, minimal menyusun rencana. Kalau misinya untuk hijrah, kita akan mencari tahu informasi kajian dan menghubungi kawan yang sudah bergabung duluan. Kalau misinya olahraga, kita akan menentukan jadwal dan jenis olahraganya. Kalau misinya menulis, kita akan mulai membaca dan menyiapkan medianya. Dan, masih banyak lagi.

mengubah diri sendiri, mengubah diri sendiri renungan, mengubah diri sendiri menjadi lebih baik, tips mengubah diri sendiri, cara mengubah diri sendiri menjadi lebih dewasa

4. Tahap Beraksi

Di mana makna rencana kalau tidak pernah dieksekusi? Karena itu, tahap ini menjadi bentuk nyata dari apa yang sudah jadi skema. Misalnya kita benar-benar datang ke tempat gym, lari-lari kecil, makan salad, datang ke pengajian, mengikuti menggerak-gerakkan jari di keyboard komputer atau laptop, dsb.

Di stage ini, orang-orang sekitar mulai menyadari perubahan kita. Syukur-syukur kalau mereka menyambut hangat. Tentu lebih baik.

5. Tahap Maintenance (Pemeliharaan)

Di tahap ini, persistensi dan konsistensi benar-benar diuji. Satu perubahan bisa mengubah hal lainnya. Ingat, mengubah ya, bukan merubah. Nanti dimarahi Uda Ivan Lanin. Beda makna, soalnya. 😀

Intinya, kita mesti beradaptasi dulu

Kita juga harus waspada kalau sikap atau kebiasaan lamanya kambuh. Misalnya kita sudah sukses (sementara) untuk tidak merokok, tetapi karena stres berat jadi tergoda lagi. Kita sudah sukses (sementara) untuk tidak bergosip, tetapi karena ada topik hot jadi tergoda lagi. Kita sudah sukses (sementara) untuk menabung, tetapi karena ada konser idaman jadi tergoda lagi. Dll.

Oleh sebab itu, peran seorang pendukung, motivator, atau mentor jadi begitu penting.

6. Termination (Akhir)

Hanya segelintir orang yang bisa menjangkau tahap ini. Kebanyakan sudah tergelincir, bahkan tumbang di level sebelumnya. Sebab stage ini menjadi momen, di mana kita sudah tak pernah tergoda lagi untuk kembali ke tingkah laku lama.

Karena sudah mantap untuk hidup sederhana, jadinya merasa berdosa kalau mesti belanja barang yang bukan kebutuhan. Karena sudah mantap untuk makan sehat, jadinya merasa mual kalau mesti melahap gorengan. Karena sudah mantap untuk berhenti merokok, jadinya merasa sakit kalau mesti menghirup asapnya. Dan seterusnya,

7. Berpikirlah secara berbeda

Mulailah langkah pertamamu dengan berpikir secara berbeda, yaitu dengan menugucapkan kata-kata positif pada diri sendiri. Lakukan secara berulang layaknya kata-kata tersebut adalah sebuah mantra bagi diri kita. Meskipun konsep ini bukanlah hal baru, namun masih sangat efektif untuk dilakukan. Bahkan di dunia militer, untuk menanamkan pemahaman dan jiwa kemiliteran yang sama kepada seluruh tentara, mereka menggunakan mars (nyanyian), yel-yel, dan janji/sumpah untuk membantu mengubah pemikiran. Yang terpenting, kata-kata yang dipilih menunjukkan suatu penegasan dan penguatan bagi diri, serta tidak didasarkan pada keadaan yang memang sudah menetap atau terjadi sebelumnya. Misalnya, kalimat seperti “Tidak ada yang harus berubah”, tentu saja itu tidak akan membuat pikiran kita berubah karena tidak ada yang ingin kita ubah. Pilihlah mantra yang spesifik mengacu pada tujuan yang ingin kita capai. Selanjutnya sempatkan waktu untuk mengulangi dan mengkaji ulang mantra tersebut setiap harinya, agar pesan yang ingin kita sampaikan ke dalam pikiran dapat tertanam. Ulangi terus sepanjang hari kapan pun situasi yang menantang hidup itu hadir.

8. Bertindak berbeda.

Langkah berikutnya, untuk mengubah cara pandang kita, cobalah dengan mengubah hal-hal yang kita lakukan. Meskipun kita sama-sama tahu bahwa tidak mudah untuk mengubah pandangan kita terhadap sesuatu, khususnya bila kita telah melakukan hal yang sama berulang-ulang sebagai rutinitas. Tapi mulailah dengan membuat perubahan kecil dalam hidup. Pilih aktivitas baru yang selalu ingin kita coba, misalnya pergi ke tempat-tempat keramaian yang berbeda dengan yang biasa dikunjungi, melakukan kegiatan volunteer pada lembaga nonprofit, atau bergabung bersama komunitas yang belum sempat kamu datangi. Dengan mengubah atau menghentikan rutinitas kita bahkan untuk hal yang kecil, otak kita akan mendapat stimulus baru dan akan menciptakan jaringan syaraf baru yang akan membantu dalam membuat perubahan.

9. Kenali dan sadari diri.

Banyak orang mungkin memiliki ketakutan untuk mengenali dan menggali pikiran dan emosi mereka sendiri. Mereka justru lebih memilih berfokus pada kehidupan di luar tubuh mereka, seperti kebutuhan orang lain atau tujuan karir yang sudah ditetapkan. Berfokus pada kesadaran diri dapat membantu kita untuk kembali terhubung dengan kebutuhan, hasrat, dan mimpi kita sesungguhnya. Menyadari diri juga dapat membuat kita lebih memahami bagaimana cara memperlakukan orang lain dan bagaimana rasanya diperlakukan orang lain. Proses ini memang memerlukan waktu yang panjang dan bisa jadi melelahkan, namun dengan memfasilitasi diri untuk meningkatkan kesadaran tentang bagaimana kita, memungkinkan adanya perubahan kehidupan yang lebih besar. Mengidentifikasi suasana hati dan emosi akan memungkinkan bagi kita untuk melakukan penyesuaian. Tanpa memahami penyebab dari apa yang kita lakukan, kita tidak akan dapat mengubah cara pandang diri.

10. Bertemu dengan orang-orang baru.

Agar memberikan pemikiran, ide, dan persepsi baru ke dalam hidup kita, temuilah orang-orang dengan pekerjaan, latar belakang, budaya, atau perspektif yang berbeda. Ketika kita hanya bergaul dengan orang-orang yang pemikirannya sama dengan kita, yang kita dapatkan adalah penguatan tentang apa yang selama ini kita percaya dan pikirkan. Dengan begitu kita juga dengan mudah akan masuk ke dalam “pemikiran kelompok”, yang artinya akan menjadi lebih sulit bagi kita untuk melihat atau mengenali kesalahan, kekurangan, bahkan kebohongan yang selama ini yang menjadi topeng kita. Melakukan langkah ini bukan berarti meminta kita untuk meninggalkan teman-teman lama, tapi cobalah untuk “membumbui” kehidupan dengan beberapa orang atau hal baru. Berinteraksi dengan teman-teman dan rekan baru dapat meningkatkan peluang kita mengenal dengan cara pikir yang baru. Mungkin kita akan sedikit terkejut ketika percakapan kecil yang kita lakukan dengan orang lain nyatanya menggoyahkan pandangan kita selama ini. Itu yang kemudian menjadi hal besar dari memperluas pergaulan kita, bahwa adanya teman-teman baru mampu membuat lingkup pergaulan kita menjadi semakin luas dengan memperkenalkan kita pada orang-orang yang mungkin peluangnya untuk bertemu sebenarnya sangat kecil. Memperluas pergaulan bukan berarti kita harus terbang atau mengunjungi tempat-tempat asing, karena faktanya mereka ada di sekitar kita. Hanya saja bagaimana keinginan kita untuk memulai percakapan dengan mereka, orang-orang yang biasanya kita hindari.

11. Keluarlah dari zona nyaman.

Kita memliki kecenderungan alamiah untuk tetap setia melakukan hal-hal yang lazimnya kita lakukan dan menghindari situasi yang membuat kita tidak nyaman. Meskipun ini cara yang baik untuk terhindar dari situasi yang sulit, namun cara ini juga membuat kita tetap berdiam pada situasi yang menetap. Maka dorong diri kita untuk terlibat dalam aktivitas dan pengalaman baru yang mendorong kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman.

bebas

There is no ads to display, Please add some

Related posts

Sutopo Sebut Beberapa Model Bangunan Tahan Gempa Bahkan Tahan Gempa Hingga 8 SR

Penulis Kontroversi

Belajar Spasial dari Go-Jek

Penulis Kontroversi

Melihat Bimbel sebagai Bentuk ‘Kapitalisme Baik’

Penulis Kontroversi

Leave a Comment

bebas