Image default
Dari Rumah

Kontroversi puntung Rokok, Bermanfaat ataukah Berbahaya ?

bebas

Puntung rokok terdiri dari ribuan serat selulosa asetat, yang meskipun dapat terurai secara biologis, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai . Serat selulosa asetat, seperti mikroplastik lainnya, juga merupakan polutan umum yang ditemukan di ekosistem, bahkan terakumulasi di dasar laut dalam

Oleh : Imam Ahmad Bashori, Moh Ardi
Editor: S Aliyah

Filter rokok bekas juga mengandung ribuan bahan kimia salah satunya dikenal sebagai karsinogen, senyawa penyebab kanker dan dapat membunuh tanaman, serangga, tikus, jamur, dan makhluk hidup lainnya

Puntung Rokok Miliki Manfaat untuk Tanaman

Kementerian Pertanian RI menyebutkan telah melakukan penelitian bahwa puntung rokok jika masih ada sisa tembakaunya itu bisa dimanfaatkan sebagai pestisida untuk membasmi penyakit tanaman cabai.

Salah satu penyakit yang kerap menyerang pohon cabai adalah daunnya yang keriting, kuning, kurus dan rontok. Kondisi ini menyebabkan tanaman tidak bertumbuh lebat, produktivitas menurun dan bisa gagal panen. hama yang menyebabkan keriting daun, adalah hama yang tergolong pada jenis kutu-kutuan, yakni thrips, tungau, dan aphids.

Mengutip laman Kementerian Pertanian, hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata zat nikotin yang ada dalam tembakau bisa mengganggu sistem saraf pusat serangga hingga akhirnya mati. Pestisida dari tembakau ini ramah lingkungan karena nikotin lebih mudah terurai di alam sehingga tidak merusak lingkungan.

Cara membuat pestisida dari limbah rokok ini cukup mudah, kumpulkan sisa-sisa tembakau dari puntung rokok, kemudian rendam dalam air kemudian airnya disaring. Air rendaman tembakau ini bisa langsung diaplikasikan dengan cara menyemprotkan ke daun cabai yang terserang hama.

Untuk luasan tanaman yang lebih besar, ada beberapa cara yang harus diikuti agar pengendalian hama lebih efektif.

Bahannya adalah daun tembakau dari puntung rokok kurang lebih 0.25 kilogram, belerang kurang lebih 3 ons, abu dapur/abu gosok kurang lebih 2 kg, air seckupunya.

Cara pebuatannya, pertama rendam semua bahan tadi ke dalam air selama kurang lebih 4-5 hari. Kemudian saring air rendaman tadi menggunakan saringan halus, dan larutan pun siap digunakan.

Cara mengaplikasikannya adalah semprtokan larutan air rendaman tembakau tadi secara merata pada daun cabe, angar mendapatkan hasil maksimal. Jangan buang sisa air rendaman tembakau, karena dapat digunakan atau disiramkan pada tanaman dibawah tanaman cabe.

Pestisida tembakau ini bisa juga dicampur dengan bahan organik lainnya agar lebih efektif membasmi hama. Bahan campuran itu misalnya filtrat tembakau dengan filtrat daun paitan. Campuran filtrat tersebut dapat digunakan untuk membasmi hama walang sangit yang biasanya ditemukan pada tanaman padi.

 

Puntung Rokok Berbahaya Bagi Lingkungan

Sementara itu nationalgeographic.grid.id melaporkan, berkat gencarnya kampanye bebas plastik di seluruh dunia, orang mulai berbondong-bondong berhenti menggunakan sedotan plastik. Namun, jarang mendengar perlakuan yang sama tentang sampah plastik yang lain, yaitu puntung atau filter rokok.

Padahal, benda ini merupakan barang yang paling banyak mengotori planet Bumi. Setidaknya dua pertiga dari total 5,6 triliun batang rokok atau 4,5 triliun puntung rokok yang dihisap setiap tahun dibuang sembarangan.

Sejak tahun 1980-an, puntung rokok menyumbang 30% hingga 40% dari semua sampah yang ditemukan di tempat pembuangan sampah perkotaan.

Penelitian terbaru menemukan bahwa puntung rokok justru membutuhkan waktu yang lama untuk terurai dan apabila dibuang sembarangan akan merusak lingkungan hidup.

Puntung rokok terdiri dari ribuan serat selulosa asetat, yang meskipun dapat terurai secara biologis, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai . Serat selulosa asetat, seperti mikroplastik lainnya, juga merupakan polutan umum yang ditemukan di ekosistem, bahkan terakumulasi di dasar laut dalam.

Filter rokok bekas juga mengandung ribuan bahan kimia yang dapat membunuh tanaman, serangga, tikus, jamur, dan makhluk hidup lainnya. Bahkan, beberapa bahan kimia dalam filter rokok bekas dikenal sebagai karsinogen, senyawa penyebab kanker.

Ada banyak laporan tentang anak kecil dan anjing peliharaan yang secara tidak sengaja menelan puntung rokok. Selain itu, puntung atau filter rokok bekas juga telah ditemukan dalam tubuh hewan liar, seperti burung laut dan kura-kura.

Menelan puntung rokok dapat menyebabkan muntah hingga kejang pada manusia. Lindi dari puntung rokok bisa beracun bagi organisme air seperti bakteri, krustasea, cacing, dan ikan.

Risiko yang Belum Diketahui

Pemahaman manusia akan bahaya puntung rokok yang dibuang sembarangan di taman-taman hingga ruang terbuka hijau lainnya masih minim, meskipun pemandangan tersebut sering kita lihat.

Ada laporan yang mengungkapkan bahwa beberapa burung menggunakan puntung rokok untuk melapisi sarang mereka. Hal ini sangat berbahaya karena pestisida dalam nikotin akan mengurangi jumlah parasit yang tinggal di permukaan tubuh inangnya (ektoparasit) karena parasit ini berguna bagi perkembangan anak burung. Selain itu, puntung rokok bisa menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang bagi hewan.

Habitat perkotaan memiliki risiko tinggi terpapar dari sampah puntung rokok. Berdasarkan survei yang dilakukan di tiga taman terbesar di Cambridge, Inggris, menemukan rata-rata 2,6 puntung rokok per meter persegi dan maksimum 126 puntung rokok per meter persegi di dekat bangku taman, meskipun tersedia asbak.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa dampak puntung rokok yang dilemparkan ke tanah terhadap tanaman di taman?

Lalu nationalgeographic.grid.id melakukan percobaan dengan meletakkan puntung rokok ke pot berisi rumput atau daun semanggi untuk melihat pengaruhnya. Mereka menguji puntung baru dari rokok biasa serta puntung bekas (dari rokok yang sudah dibakar), serta meletakkan kayu kecil untuk melihat perbedaannya.

Mereka menemukan bahwa puntung rokok mengurangi tumbuhnya kecambah pada rumput dan semanggi hingga 25%. Selain itu, puntung rokok juga mengurangi jumlah biomassa akar semanggi hampir 60%.

Meskipun ini baru studi awal tentang batang rokok utuh dengan puntung rokok yang bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman, studi lain menemukan bahwa asap dapat mengancam hal yang sama pada tumbuhnya tanaman.

Bahkan, pada awal tahun 1900-an, Mabel Elizabeth Dibbel menyelesaikan tesis berjudul “Efek asap rokok pada bibit Vicia sativa”. Dibbel menemukan bahwa dengan meniupkan asap rokok ke bibit tanaman akan menghambat pertumbuhan dan merusak struktur sel.

 

Perlu penelitian lanjutan

Meski sudah ada kesadaran ilmiah tentang rokok dan tanaman selama lebih dari 100 tahun, isu ini tetap menjadi topik yang paling jarang diteliti.

Mengingat pentingnya tanaman sebagai penghasil utama makanan manusia dan berperan untuk membuat lingkungan lebih menyenangkan, perlu ada pengurangan terhadap sampah rokok.

Beberapa orang menyarankan untuk langsung melarang puntung rokok karenanya bahayanya bagi kesehatan manusia.

Saran lain lagi adalah memaksa produsen untuk menawarkan uang bagi perokok yang mengembalikan puntung rokok mereka.

Apapun solusinya, sangat jelas bahwa selama 39 tahun kejayaan rokok sebagai sampah nomor satu dunia harus segera berakhir.

Langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran bahwa puntung rokok merupakan sampah berbahaya bagi lingkungan dan harus dibuang dengan benar.

 

Sebagai Pestisida Alami

Praktek pemanfaatan puntung rokok Lingkungan Hidup Bogor

Puntung rokok adalah salah satu limbah dari produk rokok yang cenderung dipandang sebelah mata karena ukuran yang kecil sehingga seringkali dibuang di sembarang tempat dan menjadikan lingkungan tak bersih.

Sementara itu, apabila dilihat dari segi nilai manfaat, sampah puntung rokok ini sebenarnya memiliki potensi yang bisa diimplementasikan kepada masyarakat terutama petani. Hal ini berkaitan dengan perawatan tanaman yang harus diberikan pestisida atau pembasmi hama secara rutin.

Petani sering menggunakan pestisida kimia, namun penggunaan secara terus menerus dapat menimbulkan bahaya tersendiri. Selain tidak ramah lingkungan dan harga yang mahal, pestisida kimia dapat ikut membunuh musuh alami hama tanaman, seta dapat menyebabkan penumpukan residu kimia dalam hasil panen sehingga akan berbahaya bagi kesehatan.

Permasalahan ini menjadi peluang untuk memberdayakan limbah puntung rokok sebagai sarana yang murah dan dapat mengendalikan hama pada tanaman. Oleh karena itu, Lingkungan Hidup Bogor membuat kegiatan pembuatan pestisida alami dari sampah puntung rokok. Objek kegiatan tersebut yaitu berupa tanaman cabai dan bibit bunga matahari yang terserang hama dan penyakit.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu peluang besar membantu petani untuk menghemat biaya produksi sekaligus sebagai upaya mengurangi sampah di lingkungan sekitar kita, mengingat bahwa sampah puntung rokok ini sangat mudah didapatkan, dan penggunaaan pestisida alami ini bisa digunakan pada tanaman holtikultura maupun tanaman buah seperti apel dan lainnya,” ujar Yopin Lingkungan Hidup  Bogor. (Kamis,27/2/2020)

Yopin menerangkan cara penggunaannya yakni cairan puntung rokok dicampur dengan air biasa menggunakan perbandingan 1:2, kemudian pestisida limbah puntung rokok disemprotkan pada tanaman sekitar 3 kali seminggu atau sesuai dengan kebutuhan.

“Walaupun pestisida ini bersifat nabati, kita harus tetap membersihan hasil panen sayur maupun buah sama halnya dengan pestisida alami lainnya agar hasil panen tersebut bisa dikonsumsi dalam keadaan besih”, lanjut yopin.

Kelebihan penggunaan pestisida alami dari sampah puntung rokok ini antara lain mencegah kehadiran hama karena baunya yang menyengat, merusak syaraf hama, mengacaukan sistem hormon hama, mengendalikan pertumbuhan jamur dan bakteri, serta dapat menyebabkan gangguan metamorfosa dan gangguan bagi serangga.

“Limbah puntung rokok memiliki kandungan nikotin, fenol, dan eugenol yang masing-masing memiliki peran dalam mengendalikan hama pada tanaman. Nikotin bersifat racun bagi organisme, sedangkan berdasarkan penelitian eugenol dan fenol berperan efektif dalam mengendalikan patogen tanaman” tutup  Yopin.

 

Mengenal lebih dekat zat dalam puntung rokok

 

1. Fenol

Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil.

Fenol
Phenol2.svg
Phenol-2D-skeletal.png
Phenol-3D-balls.png
Phenol-3D-vdW.png
Phenol 2 grams.jpg
Nama
Nama IUPAC

Phenol
Nama lain

Asam karbolat, Benzenol, Asam fenilat, Hidroksibenzena, Asam fenat
Penanda
Model 3D (JSmol)
ChEBI
ChEMBL
ChemSpider
DrugBank
KEGG
PubChem CID
Nomor RTECS SJ3325000
UNII
Sifat
C6H6O
Massa molar 94,11 g·mol−1
Penampilan padatan kristal transparan
Densitas 1.07 g/cm3
Titik lebur 40,5 °C (104,9 °F; 313,6 K)
Titik didih 181,7 °C (359,1 °F; 454,8 K)
8.3 g/100 mL (20 °C)
Keasaman (pKa) 9.95 (di air),
29.1 (di asetonitril)[1]
λmaks 270.75 nm[2]
1.7 D
Bahaya
H301H311H314H331H341H373[3]
P261P280P301+310P305+351+338P310[3]
Titik nyala 79 °C
Senyawa terkait
Kecuali dinyatakan lain, data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25 °C [77 °F], 100 kPa).
Ya verifikasi (apa ini Ya ?)
Sangkalan dan referensi

Ikhtisar

Kata fenol berasal dari Fenil Alkohol (Phenyl Alcohol). Selain itu, nama fenol juga merujuk pada beberapa zat yang memiliki cincin aromatik yang berikatan dengan gugus hidroksil.

Karakteristik

Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 ml. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O yang dapat dilarutkan dalam air.Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan yang sama, alkohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan sistem aromatik, yang mendelokalisasi beban negatif melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya.[4]

Produksi

Fenol didapatkan melalui oksidasi sebagian pada benzena atau asam benzoat dengan proses Raschig, Fenol juga dapat diperoleh sebagai hasil dari oksidasi batu bara.

Penggunaan

Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik seperti yang digunakan Sir Joseph Lister saat mempraktikkan pembedahan antiseptik. Fenol merupakan komponen utama pada anstiseptik dagang, triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik.Fenol berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin, pembasmi rumput liar, dan lainnya. Selain itu fenol juga berfungsi dalam sintesis senyawa aromatis yang terdapat dalam batu bara. Turunan senyawa fenol (fenolat) banyak terjadi secara alami sebagai flavonoid alkaloid dan senyawa fenolat yang lain. Contoh dari senyawa fenol adalah eugenol yang merupakan minyak pada cengkihFenol yang terkonsentrasi dapat mengakibatkan pembakaran kimiawi pada kulit yang terbuka.Penyuntikan fenol juga pernah digunakan pada eksekusi mati. Penyuntikan ini sering digunakan pada masa NaziPerang Dunia II. Suntikan fenol diberikan pada ribuan orang di kamp-kamp konsentrasi, terutama di Auschwitz-Birkenau. Penyuntikan ini dilakukan oleh dokter ke vena (intravena) di lengan dan jantung. Penyuntikan ke jantung dapat mengakibatkan kematian langsung.[5] 

2. Eugenol

Eugenol (C10H12O2), merupakan turunan guaiakol yang mendapat tambahan rantai alil, dikenal dengan nama IUPAC 2-metoksi-4-(2-propenil)fenol. Ia dapat dikelompokkan dalam keluarga alilbenzena dari senyawa-senyawa fenol. Warnanya bening hingga kuning pucat, kental seperti minyak . Sumber alaminya dari minyak cengkih. Terdapat pula pada palakulit manis, dan salam. Eugenol sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut organik. Aromanya menyegarkan dan pedas seperti bunga cengkih kering, sehingga sering menjadi komponen untuk menyegarkan mulut.

Eugenol

Penggunaan

Metil eugenol

Senyawa ini dipakai dalam industri parfumpenyedapminyak atsiri, dan farmasi sebagai penyuci hama dan pembius lokal. Ia juga mengjadi komponen utama dalam rokok kretek. Dalam industri, eugenol dapat dipakai untuk membuat vanilin.

Campuran eugenol dengan seng oksida (ZnO) dipakai dalam kedokteran gigi untuk aplikasi restorasi (prostodontika).

Turunan-turunan eugenol dimanfaatkan dalam industri parfum dan penyedap pula.

Metil eugenol digunakan sebagai atraktanLalat buah jantan terpikat oleh metil eugenol karena senyawa ini adalah feromon seks yang dikeluarkan oleh betina.

Selain itu, beberapa bunga juga melepaskan metil eugenol ke udara untuk memikat lalat buah menghampirinya dan membantu penyerbukan.

Turunan lainnya dipakai sebagai penyerap UV, analgesika, biosida, dan antiseptika. Pemanfaatan lainnya adalah sebagai stabilisator dan antioksidan dalam pembuatan plastik dan karet.

Lalat buah Bactrocera jantan terpikat ke bunga Anthurium.

Kontraindikasi

Overdosis eugenol menyebabkan gangguan yang disebabkan oleh darah seperti diarenauseaketidaksadaranpusing, atau meningkatnya denyut jantung. Terdapat alergi yang disebabkan oleh eugenol.

3. Selulosa asetat

Selulosa asetat adalah suatu senyawa kimia buatan yang digunakan dalam film fotografi.Secara kimia, selulosa asetat adalah ester dari asam asetat dan selulosa.Senyawa ini pertama kali dibuat pada tahun 1865. Selain pada film fotografi, senyawa ini juga digunakan sebagai komponen dalam bahan perekat, serta sebagai serat sintetik.

Selulosa asetat

Film fotografi yang terbuat dari asam asetat pertama kali diperkenalkan pada 1934, menggantikan selulosa nitrat yang sebelumnya menjadi standar.

Kelemahan film selulosa nitrat adalah senyawa tersebut tidak stabil dan mudah sekali terbakar. Bila terjadi kontak dengan oksigen, film selulosa asetat menjadi rusak dan tidak dapat digunakan lagi, serta melepaskan asam asetat.

Fenomena ini disebut “sindrom cuka”, karena asam asetat merupakan bahan utama dalam cuka.

Sejak dekade1980-an, film dari poliester (sering juga disebut dengan nama dagang dari Kodak Estar) mulai menggantikan film dari selulosa asetat, terutama untuk tujuan pengarsipan.

Sebelum munculnya poliester, film selulosa asetat juga dipakai pada pita magnetik. Sekarang selulosa asetat masih digunakan dalam beberapa hal, misalnya negatif dari gambar bergerak

Ubah Puntung Rokok Jadi Produk Material Bernilai Jual

Puntung rokok yang bisanya dipandang sebagai sampah, ‘disulap’ Parongpong, sebuah perusahaan daur ulang limbah di Bandung Jawa Barat jadi produk bernilai jual. Visi mereka mewujudkan desa mandiri lestari di tahun 2022.

“Tidak ada yang namanya sampah, yang ada hanyalah material yang belum terpakai dan belum terevitalisasi”. Kalimat inilah yang menjadi pegangan bagi Parongpong, sebuah perusahaan pengolahan limbah di Bandung, Jawa Barat dalam menciptakan produk-produk bernilai jual dari daur ulang sampah.

Baru-baru ini, perusahaan yang berdiri sejak tahun 2017 itu muncul dengan sebuah inovasi pembuatan produk material yang diolah dari sampah puntung rokok. Produk kolaborasi hasil kerja sama dengan Conture Concrete Lab itu diluncurkan setelah melalui riset pengolahan sampah puntung rokok selama satu tahun.

Sampah puntung rokok yang biasanya hanya dilihat sebagai sampah yang tidak bernilai, mereka olah menjadi berbagai macam produk bernilai jual, seperti asbak, pot bunga, tiling, dan furniture outdoor.

“Ketika kemarin kami launching, pemikirannya sederhana sekali sih, kami ingin kampanye from cigarette butt to human butt, lucu-lucuannya kayak gitu,” ujar Rendy Aditya Wachid sambil tertawa saat diwawancarai salah satu awak media, Rabu (22/07).

Rendy adalah seorang lulusan jurusan arsitektur yang mendirikan Parongpong.

Rendy Aditya Wachid pendiri perusahaan daur ulang puntung rokok Parongpong

Menurut Rendy, ada kritik yang sejatinya disisipkan lewat inovasi produk material berbahan puntung rokok yang mereka kerjakan.

“Kami bikin asbak dari puntung rokok dan itu sebetulnya jadi kritik, kenapa sih orang membuang puntung rokok sembarangan? Jadi kita bikin puntung rokok itu malah dimanfaatkan sebagai container untuk menyimpan puntung rokok yang adalah asbak,” jelasnya.

Puntung rokok, sampah paling banyak terbuang ke laut

Rendy mengakui bahwa kegelisahan melihat tingginya jumlah sampah puntung rokok yang mengotori laut jadi salah satu alasan perusahaannya memunculkan inovasi pengolahan sampah puntung rokok ini.

“Perhatian terhadap sampah plastik sangat tinggi, sedangkan yang menjadi sampah nomor satu di laut itu sebetulnya puntung rokok,” katanya.

Setidaknya dua pertiga dari total 5,6 triliun batang rokok atau 4,5 triliun puntung rokok yang dihisap setiap tahun dibuang sembarangan.  Hal ini kemudian diperparah oleh fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu negara, bukan hanya sebagai produsen rokok tertinggi tapi juga negara dengan jumlah konsumen rokok tertinggi di dunia.

Itulah sebabnya, “Parongpong ingin memberi satu kesadaran bahwa mengolah dan memproses sampah apapun itu sebenarnya jauh lebih mahal daripada mencegah dan ini kami buktikan ketika kita mengolah puntung rokok ini,” jelas Rendy.

Proses pembuatan menggunakan mesin hydrothermal

Rendy menjelaskan bahwa proses pembuatan produk material berbahan puntung rokok ini diawali dengan mengumpulkan sampah puntung rokok dari café-café yang ada di Bandung, Jawa Barat. Café-café ini menurut Rendy kerap mengeluhkan sulitnya memberikan kesadaran bagi pelanggan untuk berhenti membuang puntung rokok sembarangan.

Puntung rokok secara langsung dari konsumen ia tegaskan tidak akan diterima guna menghindari salah persepsi di antara perokok.

“Kita tidak ingin mendorong orang jadi punya solusi mudah terhadap masalah yang sebetulnya mudah-mudah susah ya. Artinya banyak sekali orang yang merokok bilang “aduh susah sekali berhenti”, tapi banyak juga bukti bahwa dengan alasan dan niat yang kuat ya akhirnya beneran bisa berhenti merokok,” pungkasnya.

Produk-produk bernilai jual yang didaur ulang dari limbah puntung rokok karya Parongpong Bandung

Puntung rokok yang dikumpulkan lalu dibawa ke mesin berbasis teknologi hydrothermal untuk diolah menjadi pulp atau bubur, yang ketika dikeringkan akan menjadi fiber dengan karakter homogen. Fiber inilah yang kemudian dicarikan formula yang paling tepat oleh mitra mereka, Conture Concrete Lab, untuk dijadikan produk-produk material bernilai jual.

Selain fiber, pengolahan menggunakan mesin hydrothermal ini juga ternyata menghasilkan cairan dari sisa-sisa tembakau yang dapat dimanfaatkan untuk pestisida alami. “Ini yang belum kami blow up tapi sebetulnya sedang kami coba di kebun kami,” kata Rendy.

Desa mandiri lestari

Sejak berdiri tahun 2017, Parongpong menurut Rendy memiliki mimpi besar, yaitu “menginisiasi zero waste community atau desa mandiri lestari di tahun 2022”.

Sesuai dengan namanya yang memiliki arti “kosong” dalam Bahasa Sunda, Parongpong ingin membuktikan bahwa ada tempat tinggal di Indonesia yang dapat mengolah sampahnya secara berkelanjutan. Artinya mampu mengolah sampah organiknya sendiri dan memiliki pemahaman tinggi tentang sampah daur ulang.

Selain telah meluncurkan berbagai inovasi pengolahan limbah seperti plastik dan sampah restoran, kini Parongpong lewat perusahaan seinduknya bernama Rawhaus, juga tengah berinovasi memproduksi rumah mikro dari material daur ulang, baik dari styrofoam, puntung rokok, atau bahkan sampah popok dan pembalut.

“Jadi kalau nanti dibayangkan endless possibilities kita bahkan bisa melihat nanti akan ada rumah yang green dan affordable menggunakan material daur ulang”, tutup Rendy.

 

Ilustrasi Puntung Rokok di Pantai

Puntung itu sampah Waste4Change

Program uji coba riset daur ulang puntung dilakukan hingga Januari 2021 oleh PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) bekerja sama dengan Waste4Change. Mengusung tagar #PuntungItuSampah, program ini merupakan salah satu wujud komitmen Sampoerna terhadap konsep circular economy dan zero-waste to landfill di Indonesia.

Program ini diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah di lingkungan sekitar serta di tempat pembuangan akhir (TPA). Sampah puntung rokok yang terkumpul nantinya akan diproses menjadi beberapa produk industri rumahan yaitu pengusir hama nabati untuk tanaman, bahan baku pembuatan produk berbasis beton, dan lain sebagainya.

Kepala Urusan Eksternal Sampoerna, Ishak Danuningrat, mengatakan untuk menjalankan komitmennya, Sampoerna bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan mulai dari komunitas maupun masyarakat luas hingga pemerintah.

“Bagi kami, keberlanjutan merupakan salah satu aspek terpenting bagi kelangsungan perusahaan di mana lingkungan merupakan salah satu bagiannya. Program #PuntungItuSampah ini merupakan upaya kami dalam mengurangi dampak negatif lingkungan yang timbul dari hasil produksi, termasuk limbah pasca-konsumen”, jelas Ishak, Kamis (24/12/2020).

 

Menciptakan perubahan ekosistem ekonomi sirkular

Managing Director Waste4Change, Bijaksana Junerosano, yang akrab dipanggil Sano mengatakan, “sebagai organisasi yang mendukung program sosialisasi dan edukasi antar pemangku kepentingan untuk menciptakan perubahan ekosistem dalam rangka mewujudkan ekonomi sirkular, Waste4Change mendukung upaya Sampoerna”.

“Kami mendukung niat Sampoerna melalui Sampoerna untuk Indonesia dalam mengelola sampah puntung rokok. Program ini akan bersama kami jalankan hingga Februari 2021 untuk melihat sistem terbaik dalam proses daur ulangnya”,  jelas Sano.

Sano menjelaskan program daur ulang sampah puntung ini dilakukan melalui dua cara. Pengiriman via layanan Send Your Waste yang bisa dikirimkan ke Waste4Change Bekasi dan Waste4Change Sidoarjo, juga penitipan pada dropbox #PuntungItuSampah yang tersebar di 6 titik di wilayah Jakarta: KAUM, Komunal 88, Daiginjo, Three Buns, Toko Kopi Tuku Cipete, dan Toko Kopi Tuku BSD. Info detail mengenai penitipan dan pengiriman sampah puntung dapat dicek pada halaman resmi program daur ulang sampah puntung w4c.id/puntungitusampah.

Program ini bertujuan meningkatkan kepedulian dan mengajak perubahan perilaku konsumen dewasa dan masyarakat luas mengenai sampah puntung rokok yang perlu dikelola dengan baik. Semenjak 2019, Sampoerna untuk Indonesia juga telah bekerja sama dengan Waste4Change dalam pelaksanaan Festival SRC Indonesia dan menerapkan konsep zero-waste-to-landfill di seluruh acara yang diadakan di 13 kota di Indonesia.

 

Lingkungan berkelanjutan

Ishak juga menyampaikan apresiasinya kepada Waste4Change atas dukungan yang diberikan dalam upaya menciptakan lingkungan yang berkelanjutan.

“Semangat yang kami miliki sejalan dengan Waste4Change dan kami berharap inisiatif bersama ini dapat memotivasi berbagai pihak untuk memahami lebih menyeluruh dan berpartisipasi aktif dalam pelestarian dan pengurangan dampak lingkungan,” tutup Ishak.

Membunuh Tumbuhan Selama 1 Dekade

Pemandangan membuang puntung rokok tampaknya bisa diterima secara sosial. Apalagi banyak anggapan rokok terbuat dari tembakau yang alami, sehingga aman dikembalikan ke tanah. Saat ini sekitar 4,5 triliun puntung rokok dijatuhkan di seluruh dunia setiap tahun.

Ternyata puntung rokok dapat menyebabkan kerusakan serius pada lingkungan. Hal itu diungkapkan peneliti di Universitas Anglia Ruskin yang menemukan filter plastik dari puntung rokok yang menghentikan pertumbuhan rumput dan semanggi secara normal.

Pada semanggi, para peneliti menemukan seperempat biji yang tumbuh mengandung filter rokok. Padahal tumbuhan ini sangat penting bagi lebah dan menyerap polusi dari asap diesel. Sedangkan pada rumput, mengalami penurunan pertumbuhan sebanyak 10%.

Dilansir Dailymail, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Ecotoxicology and Environmental Safety, para peneliti  percaya bahan kimia pembuatan filter rokok plastik menyebabkan tanaman stres dengan cara yang sama seperti kekurangan air. Tanaman yang terpapar puntung juga memiliki batang yang lebih pendek dan akar yang lebih sedikit.

“Banyak perokok berpikir puntung rokok cepat terurai, karenanya tidak menganggapnya sebagai sampah. Pada kenyataannya, filter terbuat dari jenis bioplastik yang dapat memakan waktu bertahun-tahun, jika tidak beberapa dekade, untuk dipecah.” kata Dr Dannielle Green, dosen senior bidang biologi di Universitas Anglia Ruskin (ARU).

Sebelumnya puntung rokok ditemukan membahayakan kehidupan laut dan ditemukan di sarang burung pipit. Pengujian dilakukan peneliti dengan menambahkan filter rokok tunggal yang dihisap dan tidak ke dalam pot berisikan 200 biji rumput dan 150 biji semanggi. Hasilnya dibandingkan dengan bibit tanaman yang bebas dari plastik.

Setelah tiga minggu, mereka menemukan 27% lebih sedikit biji semanggi tumbuh dalam pot yang berisi filter rokok, dengan 10% lebih sedikit biji rumput berkecambah. Tunas semanggi 28% lebih pendek ketika terkena filter rokok, sedangkan tunas rumput 13% lebih kecil.

Tanaman semanggi tumbuh sekitar setengah dari jumlah normal akar, berdasarkan berat, meningkatkan kekhawatiran sampah plastik bisa membuat mereka berjuang untuk menyerap air dari tanah.

Tumbuhan itu ditemukan memiliki ketidakseimbangan klorofil atau bahan kimia penting yang memungkinkan mereka menyerap cahaya yang biasanya hanya terlihat selama kekeringan.

“Meskipun pekerjaan lebih lanjut diperlukan, kami percaya itu adalah komposisi kimia dari filter yang menyebabkan kerusakan pada tanaman”,  kata Dr Bas Boots, seorang dosen biologi di Universitas Anglia Ruskin di ARU. Ia menambahkan bahwa sebagian besar filter terbuat dari serat selulosa asetat dan bahan kimia tambahan yang membuat plastik lebih fleksibel, yang disebut plasticisers, juga dapat larut dan mempengaruhi tahap awal pengembangan tanaman.

bebas

There is no ads to display, Please add some

Related posts

Ridwan Frozen Food Hadir DiGresik, Aneka Makan Beku Melayani Partai Dan eceran Harga Terjangkau

Penulis Kontroversi

Menyusun Skala Prioritas Di Saat Pandemi

Penulis Kontroversi

Aplikasi untuk Video Conference Selama Kerja dari Rumah

Leave a Comment

bebas