Image default
Kontrol sosial Peristiwa

LSM ILHAM Nusantara inspirasi pengentasan kemiskinan indonesia

bebas

Dari hal tersebutlah akhirnya LSM ILHAM Nusantara berfikir bahwa dengan mencukupi modal usaha sebagaimana yang diterima dari kelu resah novi dan evi tersebutlah mereka bisa bangkit dan mengatasi masalah ekonomi keluarga, lsm akhirnya menggalang dana dari para dermawan, dermawan yang memberikan sumbangan adalah 23 pemerintah desa di. Kecamatan dukun, 2 pemerintah desa di kecamatan panceng, dan donatur lainnya badrus sholeh ( lamongan), veronika (surabaya) ditambah dengan hasil usaha lsm dengan cara menjual flashdisk dan produk UMKM milik LSM ILHAM nusantara yang terkumpul sejumlah Rp. 5.100.000,-.

Kontroversi.or.id: Fenoomena rebutan zakat, rebutan sembako gratis dan rebutan bantuan BLT/JPS/BPNT tampaknya sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia Pada September 2008 peristiwa rebutan zakat di Pasuruan bahkan menewaskan 21 orang.

Akar permasalahannya adalah kemiskinan. Jumlah orang miskin di Indonesia antara 30-120 juta orang, tergantung pada apa indikatornya dan siapa yang mengeluarkan data.

BPS melansir jumlah penduduk miskin yang tercatat pada September 2013 sebanyak 28,55 juta atau 11,47% dari populasi, bertambah sebanyak 0,48 juta dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2013 yang sebanyak 28,07 juta (11,37%). BPS menetapkan bahwa penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan (GK) sebesar Rp 292.951,00 pada September 2013. Jika menggunakan standar kemiskinan Bank Dunia sebesar US$ 2 (Rp 24.000,00) per kapita per hari atau Rp 720.000,00 per bulan, maka penduduk Indonesia yang tergolong miskin bisa mencapai lebih dari 50% (120 juta).

Menurut Indonesia Bebas Masalah, kemiskinan dibedakan menjadi kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural.

Kemiskinan struktural dipahami sebagai kemiskinan yang disebabkan ketidakmerataan sumberdaya karena struktur dan peran seseorang dalam masyarakat, sedangkan kemiskinan kultural memandang faktor budaya dan kebiasaan sebagai penyebab utama kemiskinan.

Dari sudut pandang agama, kemiskinan dibedakan menjadi kemiskinan material dan kemiskinan spiritual.

Kemiskinan material adalah keadaan orang-orang yang benar-benar kekurangan materi untuk menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap layak.

Kemiskinan spiritual diderita oleh orang-orang yang tidak kekurangan materi untuk hidup layak, tetapi masih merasa miskin, takut miskin, pura-pura miskin, atau mengaku miskin.

Perilaku korupsi, manipulasi, menilap pajak, menerima suap, menipu, merampok, mengemis, bakhil, rebutan zakat dan sembako adalah beberapa contoh kelompok penderita kemiskinan spiritual. Atas dasar pengertian tersebut, maka jumlah penderita kemiskinan spiritual diperkirakan lebih banyak dibandingkan kemiskinan material.

Pengentasan kemiskinan spiritual merupakan syarat mutlak untuk memberantas kemiskinan material.

Program-program penanggulangan kemiskinan material menjadi mandul dan tidak akan menampakkan hasil, jika pemerintah dan masyarakat tidak mampu menyembuhkan kemiskinan spiritual.

Kemiskinan material tidak sulit diatasi, jika kemiskinan spiritual dapat disembuhkan. Sayangnya, belum ada metode dakwah yang jitu untuk menyembuhkan kemiskinan spiritual.

Salah satu alternatif untuk menyembuhkan kemiskinan spiritual adalah Gerakan Anti Kemiskinan Seribu Rupiah Sebulan disingkat “Gerimis Seribu Bulan”, artinya beramal seribu rupiah sebulan untuk memberantas kemiskinan. Sekali lagi, hanya seribu rupiah atau dua ribu perbulan perbulan.

Mengapa seribu rupiah per bulan?
Beramal harta termasuk ibadah yang paling berat, bahkan jika dibandingkan dengan ibadah puasa sekalipun.

Seseorang bisa secara rutin berpuasa sebulan penuh, puasa Senin-Kamis, atau puasa Daud (sehari puasa sehari tidak puasa) ?.

Namun, ketika berzakat sebagian terbesar hanya mau mengeluarkan zakat Fitrah 2,5 kg beras (setara Rp 25.000,00), sedangkan zakat mal, sedekah, dan infak masih jarang dikeluarkan.

Meskipun hanya beramal Rp 1000 per bulan, jika dilaksanakan secara rutin termasuk ibadah yang disukai Tuhan. Selain itu, beramal harta diyakini akan dibalas berlipat ganda oleh Yang Maha Kaya.

Jika “Gerimis Seribu Bulan” ini sudah membudaya, kemudian ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya secara bertahap dan berkelanjutan.

Marilah kita buat hitungan sederhana.
Dengan menggunakan data BPS, jumlah penduduk miskin 30 juta dari 240 juta jiwa penduduk, yang berarti terdapat 210 juta penduduk yang tidak miskin (kaya). Jika 210 juta penduduk yang tergolong kaya itu mau iuran, menyumbang, bersedekah, atau berinfak Rp 1000 per bulan, maka akan terkumpul dana Rp 210 milyar per bulan.

Dalam satu tahun akan terkumpul dana Rp 2,52 trilyun.
Dengan dana sebesar itu, tidak sulit dan tidak lama untuk memberantas kemiskinan material di Indonesia. Dana dikumpulkan di setiap daerah mulai dari tingkat RT, RW, desa/kelurahan, kecamatan, sampai kabupaten/kota. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk memberantas kemiskinan di daerah masing-masing melalui berbagai kegiatan, seperti sembako gratis, sekolah gratis, pengobatan gratis, bedah rumah, bantuan modal usaha, pelatihan kewirausahaan, dan sebagainya. Jika ada kelebihan, dana tersebut bisa digunakan untuk membantu daerah lain yang masih kekurangan.

Betapa dahsyat dampak berganda (multiplier effect) yang terjadi jika bangsa Indonesia, khususnya umat Islam yang merupakan mayoritas (85,2%) penduduk Indonesia ini, mau, mampu, dan ikhlas memelopori “Gerimis Seribu Bulan”. Dana yang terkumpul tidak hanya dapat digunakan untuk memberantas kemiskinan, melainkan juga untuk mengatasi kebodohan dan keterbelakangan bangsa.

Lebih dari itu, jika dana itu bisa terkumpul secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia atau umat Islam dapat mendirikan Indonesian Bebas Miskin Corporation atau Islamic Bebas Miskin Corporation, yaitu sebuah amal usaha atau usaha amal di berbagai bidang kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Dengan demikian, misi Islam sebagai rahmat seluruh alam (rahmatan lil-alamin) bukan sekedar retorika, akan tetapi benar-benar menjadi realitas.

Terinspirasi Dari Warga Tebuwung dan Warga Tiremenggal Didata Saja Puluhan Kali

Berawal dari informasi seorang warga yang memberikan informasi bahwa ada orang warga kecamatan dukun yang sangat memprihatinkan sebut saja namanya Novi austina warga desa tebuwung, dan evi susanti warga desa tiremenggal yang kedua desa tersebut berada di kecamatan dukun kabupaten gresik propinsi jawa timur yang menjadi inisiator lsm untuk melakukan kegiatan kemanusiaan pengentasan kemiskinan.

Lsm ilham nusantara menilai bahwa selama ini cara yang dipakai pemerintah dalam penuntasan kemiskinan kurang mengena dan tidak berefek menuntaskan kemiskinan namun hanya penundaan kelaparan.

Bagaimana tidak, masak programnya pengentasan kemiskinan hanya berupa bantuan beras dan sedikit uang saku anak ini tidak akan menuntaskan permasalahan kemiskinan nasional?

Akhirnya memakai Cara lain untuk menuntaskan kemiskinan, menopang tujuan pemerintah dalam program tujuan pengentasan kemiskinan, cara yang dipakai oleh lsm ini sungguh dapat dijadikan sebagai inovasi indonesia dalam pengentasan kemiskinan, lsm kemudian menemui novi dan evi menanyakan keinginanya untuk bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi, setelah novi dan evi menyampaikan keluhannya, menceritakan keinginan dan keahliannya.

Lsm sangat menyayangkan pemerintah kabupaten gresik atas perhatian pada keluarga berprestasi dari keluarga evi yang menggondol penghargaan juara 1 dalam olimpiade namun tidak adanya perhatian pemerintah kabupaten dan ini sangat disayangkan “kenapa sdm yang mumpuni diliarkan apakah sdm tidak dianggap penting oleh pemerintah kabupaten gresik sehingga yang dirangkul hanya investor saja” (tutur ketua umum LSM ILHAM Nusantara).

Dari hal tersebutlah akhirnya LSM ILHAM Nusantara berfikir bahwa dengan mencukupi modal usaha sebagaimana yang diterima dari kelu resah novi dan evi tersebutlah mereka bisa bangkit dan mengatasi masalah ekonomi keluarga, lsm akhirnya menggalang dana dari para dermawan, dermawan yang memberikan sumbangan adalah 23 pemerintah desa di. Kecamatan dukun, 2 pemerintah desa di kecamatan panceng, dan donatur lainnya badrus sholeh ( lamongan), veronika (surabaya) ditambah dengan hasil usaha lsm dengan cara menjual flashdisk dan produk UMKM milik LSM ILHAM nusantara yang terkumpul sejumlah Rp. 5.100.000,-.

Selanjutnya dana tersebut disalurkan kepada kedua penerima tersebut masing masing sebesar Rp. 2.000.000,- sisanya ada di kas LSM ILHAM Nusantara.

Kenapa demikian LSM juga telah menghimpun informasi bahwa tugas kemanusiaan selanjutnya adalah ada warga janda 5 anak yatim yang masih kecil kecil dikecamatan ujungpangkah, warga kecamatan sidayu dan warga kecamatan manyar yang akan di tuntaskan masalah ekonominya.

Hanya dengan cara menanyakan terkait keluh kesahnya, harapannya dan skillnya kemudian kami bisa membantu mensuport modal untuk mereka yang dapat menjadikan solusi pengentasan kemiskinan dengan tujuan pemberian modal tersebut untuk dikembangkan dan hasilnya untuk biaya hidup dengan catatan modal jangan sampai habis.

Cara itu yang bisa menuntaskan kemiskinan INDONESIA.

Harapan lsm kepada novi dan evi menjaga modal tersebut dan dikembangkan. Besar harapan kami sekarang mereka berdua adalah penerima besuk mereka menjadi penyumbang. (Ahmad Bashori Almuhajir)

bebas

There is no ads to display, Please add some

Related posts

Petik Sayur & Buah Riset Petro Agrifood Expo-16 Petrokimia Gresik Bersama Kapolres Gresik

Penulis Kontroversi

Kementerian ESDM Bangun Tiga Pusat Riset Kegeologian

Penulis Kontroversi

Khofifah Ajak Warga Jatim Tanam Cemara Udang untuk Cegah Abrasi

Penulis Kontroversi

Leave a Comment

bebas