Image default
Pojok Opini Khoirul Anam AS

Normalisasi yang Abnormal

bebas

Normalisasi yang Abnormal

Oleh: Khoirul Anam AS

Bungah adalah salah satu tempat yang memiliki potensi dalam pengembangan sumber air. Sehingga tak heran jika PDAM Giri Tirta Gresik milirik Bungah untuk mengelola sumber daya airnya. (Dwyanti Rosalia, 2017)

Swastanisasi air di Gresik telah dilakukan PDAM sejak 2016. Ini adalah tahun keempat proyek berlangsung. Mulai dari proyek pembangunan BGS (Bendung Gerak Sembayat) mulai tahun 2016, hingga saat ini berlangsung proyek lanjutan berupa pemasangan pipa transmisi dan distribusi.

Salah satu tujuan mulianya termasuk peningkatan cakupan layanan distribusi air bersih di wilayah Gresik. Agenda utamanya pemasangan pipa berkapasitas 1000 liter/detik dengan diameter 1100 milimeter (1,1 meter) dengan panjang 7,8 km ditanam sepanjang kiri kanan jalan raya Bungah – Sidomukti.

Kualitas air di daerah Bungah bisa dikatakan bagus dan memiliki kuantitas yang cukup besar, dengan memanfaatkan daerah aliran sungai Bengawan Solo. Sebagaimana yang dilansir dari hasil riset Dwyanti Rosalia (2017) mengenai studi demand air tahun 2037 di Gresik, menyatakan bahwa Bungah adalah salah satu tempat yang memiliki potensi dalam pengembangan sumber air. Sehingga tak heran jika PDAM Giri Tirta Gresik milirik Bungah untuk mengelola sumber daya airnya

Mega proyek itu tak lantas membuat orang senang dengan hasil yang akan didapat. Malah pelaksana proyek banyak mengabaikan keselamatan kerja dan tanggung jawab.

Berbagai keluhan masyarakat akan keberlangsungan proyek ini telah banyak penulis dengar dan peroleh

Berbagai keluhan masyarakat akan keberlangsungan proyek ini telah banyak penulis dengar dan peroleh. Bagaimana tidak, selain jatah kondisi jalan yang layak menjadi berkurang, belum lagi seringnya macet yang ditimbulkan akibat operasi proyek, banyak debu ketika kondisi kering, Bletok (jalan kotor dan licin akibat tanah basah) ketika hujan.

”Ini lumayan mengganggu pengguna jalan mas, soalnya jalan yang layak digunakan jadi tinggal setengah, akhirnya sering macet, banyak debu juga”, Ujar Dani salah satu pemuda pengguna jalan.

hal tersebut lumrah dan normal, karena namanya juga proyek, pasti ada yang terdampak

Atau mungkin hal tersebut lumrah dan normal, karena namanya juga proyek, pasti ada yang terdampak, terutama hal kenyamanan. Apalagi ketika proyek sedang berjalan dan dikerjakan. Termasuk juga para pelaku usaha yang tutup beberapa hari akibat proyek yang beroperasi di halaman depannya, semoga saja mereka mendapat kompensasi. Tahap berikutnya dan mungkin menjadi tahap akhir dari proyek pemasangan pipa, yaitu normalisasi jalan raya yang terkena dampak.

Ternyata ketidaknyamanan pengguna jalan tidak hanya dirasakan ketika proyek berlangsung. Namun ketika tahap terakhir dari proyek sudah dilakukan yaitu normalisasi jalan raya. Masih ada saja gerutuan yang terdengar dari sebagian masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kondisi jalan yang telah selesai normalisasi, menurun kualitasnya. Bukan cerewet, tapi sepertinya tabi’at dari manusia memang suka membandingkan antara apa yang dijumpai sebelumnya dengan apa yang ada saat ini. Apalagi ketika yang dirasakan sekarang tidak lebih baik dari yang pernah dirasakan sebelumnya.

Sebenere nambal jalane ini sudah selesai apa belum seh yoo, kok kayak tambalane nggak rata blas

Salah satu gerutuan muncul juga dari teman saya sendiri, Kamal, selaku pemilik toko yang terpaksa tutup beberapa hari karena terkena dampak langsung dari proyek tersebut, “Sebenere nambal jalane ini sudah selesai apa belum seh yoo, kok kayak tambalane nggak rata blas. Coba lihat di depan tokoku, pengerjaannya seperti sembarangan”.

Memang secara kasat matapun terlihat, kondisi jalan yang awalnya bisa disebut normal dan lebih smooth, sekarang menjadi lebih bergelombang, dan lebih banyak jebakan Batmannya. Ada juga beberapa patahan (pada gambar) yang terbentuk dari perbedaan tinggi antara jalan lama dan pasca normalisasi. Kalau saya menyebutnya Normalisasi yang abnormal atau belum normal. Husnudzon saja, barangkali memang disengaja seperti itu, untuk meminimalisir yang kebut-kebutan, juga kecelakaan.

Tetapi masyarakat di sekitar proyek tetap saja perlu berterima kasih pada penyelenggara proyek

Tetapi masyarakat di sekitar proyek tetap saja perlu berterima kasih pada penyelenggara proyek. Karena salah satu dampak positifnya adalah cukup banyak usia produktif dari beberapa desa yang terserap dan terlibat dalam proyek.

Meskipun hal tersebut memang sudah menjadi kewajiban dari PDAM Giri Tirta Gresik yang bernotabene perusahaan nasional. Jadi tidak perlu terlalu Wah untuk mengapresiasi.

Semoga saja saya salah, dan ternyata proyek memang belum sepenuhnya selesai, sehingga ada kemungkinan normalisasi jalan lebih layak, atau paling tidak mendekati kondisi semula. Harapannya lagi, beberapa titik yang masih belum terkena normalisasi, lebih bagus hasil pengerjaannya.

Gresik, 24 Juli 2020

 

bebas

There is no ads to display, Please add some

Related posts

17 Agustus 1945, apakah Indonesia benar sudah merdeka ???

Khoirul Anam As Syukri

Surat Keterangan “Sakti” Hasil Rapid Test

Khoirul Anam As Syukri

MEMUTUS MATA RANTAI, BUKAN MEMUTUS MATA PENCAHARIAN

Khoirul Anam As Syukri

Leave a Comment

bebas