Image default
Politik & Pemerintahan Profile

Ahli Perang Yang Jadi Ujung Tombak Investasi








Tak pasti berapa potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini. Kalau pun di bawah 5%,  angkanya masih di sekitar 4% atau dekat 5%

Jakarta – Presiden Jokowi memutuskan untuk menunjuk Luhut Binsar Panjaitan menjadi menteri koordinator bidang kemaritiman dan investasi pada Kabinet Indonesia Maju.

“Saya kira terobosan-terobosan dalam rangka Indonesia poros maritim dunia, menangani hambatan investasi dan merealisasikan komitmen-komitmen investasi besar berada di tangan beliau (Luhut)”, kata Jokowi di Istana Negara Rabu (23/10)

Luhut memiliki latar belakang militer. Pada 1967, ia masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian darat. Tiga tahun kemudian meraih predikat sebagai lulusan terbaik.

Bisa dibilang, Luhut banyak menghabiskan karir militernya di Komandan Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara Negara Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD). Ia pernah menjadi Komandan pertama Detasemen 81, Komandan Grup 3 Kopassus, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), serta Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI AD.

Setelah itu, Presiden BJ Habibie mengangkat Luhut sebagai Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Singapura pada 1999 silam. Presiden RI ketiga ini menganggap Luhut ahli dalam melakukan diplomasi, sehingga mampu memperbaiki hubungan dengan negara lain yang kurang harmonis.

Selanjutnya, Luhut ditarik dari Singapura untuk kembali ke Indonesia oleh Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia didapuk menjadi Menteri Perdagangan dan Industri RI selama 2000-2001.

Karirnya di pemerintahan semakin cemerlang. Pada masa Presiden Joko Widodo (Jokowi), Luhut ditunjuk sebagai Kepala Staf Kepresidenan Indonesia.

Satu tahun selanjutnya, Jokowi melantik Luhut sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan. Kemudian, jabatan Luhut kembali dipindah pada 2016 ke Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman untuk menggantikan Rizal Ramli.

Anak pertama dari lima bersaudara ini tak hanya menapaki karir sebagai prajurit dan pejabat pemerintahan. Ia juga berkecimpung sebagai pengusaha di sektor batu bara.

Ia mengempit saham sebesar 9,99 persen di PT Toba Bara Sejahtera Tbk. Mengutip RTI Infokom, Luhut memegang saham tersebut melalui PT Toba Sejahtera.

Dari segi pendidikan, pria kelahiran Toba Samosir pada 28 September 1947 ini sempat tinggal di Bandung dan bersekolah di SMA Penabur. Ia menjadi salah satu orang yang mendirikan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) yang mengumpulkan pelajar dan mahasiswa menentang orde lama dan PKI.

Saat menemui Jokowi kemarin sore, ia telah mendapatkan arahan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan investasi, terutama terkait komoditas petrochemical, B20, dan B30. Dengan demikian, impor minyak dan gas (Migas) bisa berkurang.

“Tadi saya lapor B20 sudah mampu mengurangi 20 persen impor energi. Kalau kita setia, dalam dua sampai tiga tahun ke depan, kita akan mengurangi impor energi dengan signifikan”, ungkap Luhut kemarin.

Pimpin Kementerian Kemaritiman dan Investasi
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman periode 2014-2019 Luhut Binsar Panjaitan diminta kembali membantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi.

“Tadi saya dipanggil presiden ya di-brief untuk tugas saya ke depan. Jadi nanti menangani soal maritim dan investasi”, ujar Luhut usai bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta. Selasa (22/10)

Menurut dia, Jokowi memberi arahan agar Kemenko Kemaritiman dan Investasi menyelesaikan persoalan-persoalan investasi, terutama terkait komoditas petrochemical, B20, dan B30. Dengan demikian, impor minyak dan gas (Migas) bisa berkurang.

“Tadi saya lapor B20 sudah mampu mengurangi 20 persen impor energi. Kalau kita setia, dalam dua sampai tiga tahun ke depan, kita akan mengurangi impor energi dengan signifikan”,ungkap Luhut.

Kendati nama kementerian berubah, Luhut enggan menyebutkan kepastian bahwa ada perubahan nomenklatur atau tidak. Dia hanya menyebutkan bahwa hal itu merupakan kewenangan Kepala Negara dan akan diumumkan esok hari, Rabu (23/10) sebelum pelantikan menteri kabinet baru Jokowi.

Sebelumnya, Luhut menjabat sebagai Menteri Kemaritiman. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Presiden (KSP).

Ekonomi Indonesia bisa tumbuh dibawah 5%
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengakui ekonomi Indonesia bisa tumbuh di bawah 5 persen pada 2019. Pengakuan diberikan sejalan dengan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2019 yang dilakukan Dana Moneter Internasional (IMF).

Sebagai informasi, IMF baru saja menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebanyak 0,3 persen dari 3,3 persen menjadi hanya 3 persen.

“Memang ekonomi global semua menurun. Tapi yang paling kecil kena dampaknya Indonesia. Jadi mungkin saja (pertumbuhan ekonomi Indonesia) 5 persen atau sedikit di bawah 5 persen”, ungkap Luhut. Rabu (16/10)

Ia tak menyebut pasti berapa potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini. Kalau pun di bawah 5 persen, Luhut memastikan angkanya masih di sekitar 4 persen atau dekat 5 persen.

“Lihat saja nanti”, katanya.

Pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 mencapai 8 persen. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,05 persen pada kuartal II 2019.

Diketahui, ini kedua kalinya IMF merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi global. Sebelumnya pada April 2019, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 persen dari prediksi Januari yang sebesar 3,5 persen menjadi 3,3 persen.

“Meningkatnya hambatan perdagangan dan ketegangan geopolitik terus melemahkan pertumbuhan ekonomi global”, ungkap Penasihat Ekonomi sekaligus Direktur Departemen Riset IMF Gita Gopinath, dikutip dari World Economic Outlook periode Oktober yang terbit Selasa (15/10).

Ia menyatakan penurunan sektor manufaktur dan perdagangan global memicu perlambatan ekonomi global. Sejauh ini, bisa dibilang perang dagang antara AS dan China memang belum usai, sehingga terus berdampak negatif pada perdagangan dunia.

“Pertumbuhan volume perdagangan pada paruh pertama 2019 jatuh menjadi hanya 1 persen yang merupakan level terlemah sejak 2012”, jelas dia.

Dengan berbagai sentimen ini, IMF memprediksi ekonomi negara maju melambat menjadi 1,7 persen pada 2019 dari 2,3 tahun lalu. Pertumbuhan negara maju diproyeksi stagnan tahun depan.

Sementara, ekonomi negara berkembang diprediksi melambat menjadi 3,9 persen di 2019 dari 4,5 persen pada 2018. Koreksi ini dipicu perang dagang, ketidakpastian kebijakan domestik, dan perlambatan ekonomi China.
(cdc/uli/fra/aud/agt/isa)

































There is no ads to display, Please add some

Related posts

Upaya Satlantas Polres Gresik Tekan Angka Laka Lantas Dengan Sosialisasi Millennial Road Safety Festival Kepada Pengguna Jalan

Penulis Kontroversi

Terbuka kemungkinan menteri agama dipanggil sebagai saksi

Penulis Kontroversi

Warga Menganti Ditangkap Usai Transaksi Narkotika di Surabaya

admin

Leave a Comment