Image default
  • Home
  • Budaya
  • Upaya Aktivasi Retribusi Cagar Budaya Gajah Mada
Budaya Peristiwa

Upaya Aktivasi Retribusi Cagar Budaya Gajah Mada

Jalan utama sebagai akses menuju petilasan di tutup dan di ganti dengan gapura yang memiliki anak tangga, sehingga para pengunjung hanya biasa berjalan kaki untuk menuju ke petilasann ini, jalan utama nya di pindahkan di sisi lain, jalan masuk yg baru ini di bangun sebuah gapura yang nantinya semua pengunjung yang akan masuk melalui jalan itu di tarik karcis sebagai pengunjung wisata rintisan Majapahit

Pewarta: Abdullah Mas’udin
Kategori: Budaya

Kontroversi Cagar Budaya: Peninggalan sekaligus petilasan salah satu Patih di masa keemasan kerajaan majapahit yaitu Mahapatih Gajahmada, yang berupa sebuah batu dengan ditutupi kain warna merah putih berada di dalam sebuah bangunan yang dindingnya. Terletak di Desa Jabung Jatirejo Mojokerto Jawa Timur. Sisi barat dari pusat kota Mojokerto.

Peninggalan dan petilasan yang terbuat dari batu bata sekeliling nya hanya tinggi 150 Centimeter beratapkan genteng yang berbentuk limas dengan gaya bangunan Bali (warga sekitar menyebutnya dengan petilasan Jamong).

“Tempat ini banyak di kunjungi masyararakat yang hanya sekedar berkunjung untuk melihat dan ada juga yang datang untuk berdo’a, terutama orang orang yang laku spiritual yang memakai adat kebudayaan jawa atau kejawen dan penghayat kepercayaan”, kata juru kunci Petilasan Gajahmada yang akrab disapa dengan Mbah Tuminah. (26 /07/2018)

Dengan akrabnya Mbah Tuminah berbincang, mengobrol, serta menjawab pertanyaan seputar peninggalan tersebut dengan detailnya, dari masa ke masa. Dari awal hingga kekinian.

Tak luput diantara penjelasannya tersebut tersirat polemik tentang perencanaan beberapa bangunan baru di sekelilingnya.

“Bangunan baru itu akan di buat tempat wisata seperti itu (seraya menunjuk bangunan utama, pen)”, lanjutnya.

Setelah awak media ini meneliti dan bertanya ke penduduk sekitar, tempat wisata ini bernama wisata rintisan bumi pelataran majapahit, di kelola oleh Paguyuban Jabung Sejahtera.

Mbah tuminah menjelaskan bahwa leluhur di tempat ini kurang berkenan dengan dibangunnya tempat wisata di sekeliling petilasan ini.

Alasannya, jalan utama sebagai akses menuju petilasan di tutup dan di ganti dengan gapura yang memiliki anak tangga, sehingga para pengunjung hanya biasa berjalan kaki untuk menuju ke petilasann ini, jalan utama nya di pindahkan di sisi lain, jalan masuk yg baru ini di bangun sebuah gapura yang nantinya semua pengunjung yang akan masuk melalui jalan itu di tarik karcis sebagai pengunjung wisata rintisan Majapahit.

“Mbah Tuminah berharap dengan ada nya tempat wisata ini bisa menambah kebaikan untuk petilan ini dan yg paling penting orang orang yg datang ke tempat ini untuk berdo’a tidak terganggu dan tidak di persulit untuk masuk ke tempat ini”, demikian mbah tuminah menjelaskan.

Harapan lainnya adalah semua Peninggalan bersejarah kerajaan majapahit di wilayah mojokerto, agar di jaga dan pelihara, bisa menjadi aset negara seutuh nya sebagai cagar budaya.

“Kami berkeinginan untuk membantu dan turut serta menjaga dan melestarikan semua cagar budaya yg ada di wilayah mojokerto dan di seluruh pelosok tanah jawa”, tutup Mbah Tuminah.

Hingga berita ini diturunkan, tidak satupun pihak terkait yang bisa dikonfirmasi terkait perencanaan pembangunan tersebut.

Editor: Isa


There is no ads to display, Please add some

Related posts

Kejati Telah Menerima SPDP 6 Tersangka Amblesnya Raya Gubeng

Penulis Kontroversi

7 Pemuda Diamankan Polsek Kedamean Saat Asyik Pesta Miras

Penulis Kontroversi

Ngontel Bareng Bersama OTW

Penulis Kontroversi

Leave a Comment